Di Samping Lapangan Itu.....

Aku berhenti di pinggir kota itu, sikapnya yang baik padaku ketika di depan orang banyak, sepertinya tak banyak membantu ketika aku menyadari bahwa ia tampak tidak begitu bersahabat ketika aku harus bicara empat mata dengannya. Aku bisa lihat dari gaya bicaranya ... tatapan mata yang aneh .... . Apa benar dia mau membantuku ??? Jangan-jangan cuma kata-kata kosong, sekedar basa-basi saja .....Ah ..Biasanya begitu ya ....

Aku lama terhenti di situ, menimbang kembali, apa yang pernah dia ucapkan di samping lapangan itu disaksikan kerumunan manusia di sana. Dia berjanji ini dan itu. Kala itu,kata-katanya mengelegar bagai petir di siang bolong. Enak di dengar, menyirami layunya tanaman sebuah keinginan. Menidurkan anak kecil di pangkuan ibunya. Membagi-bagi sekerat roti harapan. Dan semua tersenyum, bahkan tertawa bersama. Bersorak kegirangan bahwa kesempatan sebentar di depan mata. Walau di terik mentari yang menyengat, mereka tak rasakan.... karena sesaat kemudian juga akan turun hujan. Yah ... bertepatan dengan musim hujan. panas dan hujan silih berganti.

Lapangan telah sepi, apakah wujud dari kata-kata itu juga menghilang ...seiring pulangnya mereka.

Aku urungkan niatku datang ke rumahnya. Aku memutar haluan, dan berhenti di warung kopi sebelahnya, tempat aku bermimpi menegakkan cita-cita yang batangnya mulai merapuh.

Dapat apa sih aku kira-kira ketika datang ke tempat itu dan melipat lubang gambarmu ????
Uang sepuluh atau dua puluh ribuan itukah !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar