Setelah peristiwa itu, kecil kemungkinan bagi kita untuk dapat bertemu lagi seperti dulu. Pertemuan setelahnya akan mempunyai arti yang sangat berbeda. Aku sangat yakin, belum tentu kita akan dapat menjalaninya, bagaimanapun kesan mendalam yang telah terpatri di dalam pikiran dan hati kita. Hanya untuk sebuah pertemuan yang kita buat. Hanya karena satu hal, kita berdiri di atas realita yang berbeda. Realita yang unik, realita yang enggan untuk sejalan hanya sekedar menemukan adaptasi atau kompromi dari bait-bait harian kita.
Betapa pun banyak kata
yang dapat dituliskan di atas kertas untuk sekedar menggantikan pertemuan itu.
Rasanya itu tidak ada artinya lagi. Rasanya kalau pertemuan itu terjadi hanya
sekedar basa-basi saja.
Apakah tidak ada
kerinduan lagi di dalam hati ini ? Pertanyaan yang selalu hadir setiap kali
muncul keinginan untuk menemuimu….. Satu hal yang dapat kuungkapkan padamu, aku
sangat ingin jumpa kamu. Bila itu terjadi, setidaknya aku ingin datang ke
kantin itu. Atau aku benar-benar pergi ke sana, lalu memesan makanan yang
biasanya kita pesan waktu itu, sambil sekali berharap engkau akan datang ke
tempat itu.
Melihatmu berjalan di pengujung pandangan itu rasanya sudah cukup
melegakan hasratku untuk bertemu denganmu. Bila itu terjadi, aku sudah senang
sekali. Apalagi kudapati engkau sempat menyapaku, tak tergambarkan lagi betapa
senangnya dan leganya hatiku.Bagaikan kemarau tersirami air hujan, seperti
hilang rasa dahaga rerumputan di luar kantin itu.
Semisal pertemuan kita
dulu menjadi kisah yang langka, sudah tentu aku mengenangnya menjadi kenangan
manis. Pertemuan melintasi koridor-koridor
itu atau dari satu pintu yang satu ke pintu yang lain atau saat di teras
sana itu ketika hujan turun dengan derasnya. Semuanya menorehkan untaian puisi
yang tak tergambarkan artinya dalam hatiku.
Sampai suatu ketika
kututup lembaran ini, rasanya sayang tuk dilepaskan begitu saja. Tuk kembali
menjalani kehidupan itu, sesuai keberadaan yang ada di sekitar diri kita
masing-masing. Pertemuan kita telah terhempas oleh egoisme realita. Namun aku
yakin masih banyak kebaikan yang bisa kita perbuat, tuk menuju ke sana…………………atau
mungkin telah berlalu.
Kapan waktu saja, bila
teringat, salamku kan terucap untukmu……sekalipun engkau tak mendengarnya.

