Masa lalu itu indah untuk dikenang. Pengalaman dan rangkaian peristiwa yang terjadi penuh dengan untaian hikmah kehidupan. Untaian kisah dan mimpi-mimpi sebagai bumbu penyedap mengarungi kehidupan. Wujudkan harapan dan impian itu sebanyak engkau dapat meraihnya.
Di mana kamu ...
Hari itu aku sengaja datang ke kotamu. Hari itu kulihat kotamu ramai sekali, tampak sedang ada karnaval. Orang-orang ramai keluar ke jalanan. Perjalananku terhenti di tepi jalan, beberapa saat sebelum sampai ke tempatmu. Aku keluar dari kendaraanku, berbaur dengan orang-orang itu, mengikuti keramaian itu.
Sampai aku bosan, karnaval itu tak kunjung usai. Ku coba menghubungimu, tapi entah telah yang keberapa kali, kamu yak pernah mengangkatnya. Aku yakin, kamu pasti tahu, karena jauh-jauh hari sebelumnya kita telah sepakat untuk bertemu di rumahmu.
Kesal rasanya, tinggal beberapa kilometer lagi...tinggal beberapa menit lagi perjalanan ... aku harus terhenti di situ. Telah hampir 2 jam, aku terhenti di situ, tak ada tanda-tanda karnaval itu berakhir. Aku tepikan kendaraanku. Aku parkir si situ. Aku putuskan tuk berjalan, dan ketika telah melewati keramaian itu, aku menumpang kendaraan lain, kebetulan sekali tak ada ojek. Sampailah aku di depan, benar-benar sial dibuatnya hari itu, rumahmu terkunci. Tak satupun keluargamu juga ada di situ. Hanya....kata tetangga sebelah, semua telah pergi dari tadi pagi.
Ke mana kamu ......... aku terduduk di trotoar depan rumahmu ...sambil menunggumu .... menoleh ke kanan ...dan ke kiri. Sepi. Setelah sekian lama aku di situ, dan aku telah merasa bosan ... aku melangkah pergi dari tempat, kembali ke kendaraanku terparkir. dan ketika aku sampai di sana, jalanan sudah sepi, hari sudah gelap, tinggal kendaraanku saja yang terparkir.
Aku terdiam, dan kemudian kusadari kalau perutku lapar. Kutinggalkan tempat itu dengan perasaan kecewa. Kutinggal kota itu setelah sempat mampir di sebuah warung di pinggir jalan kota itu. Aku keluar dari kota itu, dan berangsur menjauh. Setelah sekian jam, aku sampai di kotaku, hampir tengah malam. Sesaat sebelum sampai di rumah, handphone berbunyi, kulihat itu dari kamu, langsung saja kuangkat, "Maafkan aku, bukan aku tak mengabarimu. Barusan aku tersadar, aku di rumah sakit. Aku ... aku ..." terputus suara handphone itu.
Aku menepi, dan terhenti, tepat tengah malam, kurenungi perjalanan hari itu. Segenap perasaan kesal dan lelahku seketika sirna, kuikhlaskan semuanya karena alasan itu. Sebelum akhirnya aku pulang, dan tertidur di rumahku.
Paginya kuputuskan untuk kembali ke kotanya .....menemuinya.
Kebetulan aku masih ada cukup waktu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar