Di mana kamu ...


Hari itu aku sengaja datang ke kotamu. Hari itu kulihat kotamu ramai sekali, tampak sedang ada karnaval. Orang-orang ramai keluar ke jalanan. Perjalananku terhenti di tepi jalan, beberapa saat sebelum sampai ke tempatmu. Aku keluar dari kendaraanku, berbaur dengan orang-orang itu, mengikuti keramaian itu.

Sampai aku bosan, karnaval itu tak kunjung usai. Ku coba menghubungimu, tapi entah telah yang keberapa kali, kamu yak pernah mengangkatnya. Aku yakin, kamu pasti tahu, karena jauh-jauh hari sebelumnya kita telah sepakat untuk bertemu di rumahmu.

Kesal rasanya, tinggal beberapa kilometer lagi...tinggal beberapa menit lagi perjalanan ... aku harus terhenti di situ. Telah hampir 2 jam, aku terhenti di situ, tak ada tanda-tanda karnaval itu berakhir. Aku tepikan kendaraanku. Aku parkir si situ. Aku putuskan tuk berjalan, dan ketika telah melewati keramaian itu, aku menumpang kendaraan lain, kebetulan sekali tak ada ojek. Sampailah aku di depan, benar-benar sial dibuatnya hari itu, rumahmu terkunci. Tak satupun keluargamu juga ada di situ. Hanya....kata tetangga sebelah, semua telah pergi dari tadi pagi.

Ke mana kamu ......... aku terduduk di trotoar depan rumahmu ...sambil menunggumu .... menoleh ke kanan ...dan ke kiri. Sepi. Setelah sekian lama aku di situ, dan aku telah merasa bosan ... aku melangkah pergi dari tempat, kembali ke kendaraanku terparkir. dan ketika aku sampai di sana, jalanan sudah sepi, hari sudah gelap, tinggal kendaraanku saja yang terparkir.

Aku terdiam, dan kemudian kusadari kalau perutku lapar. Kutinggalkan tempat itu dengan perasaan kecewa. Kutinggal kota itu setelah sempat mampir di sebuah warung di pinggir jalan kota itu. Aku keluar dari kota itu, dan berangsur menjauh. Setelah sekian jam, aku sampai di kotaku, hampir tengah malam. Sesaat sebelum sampai di rumah, handphone berbunyi, kulihat itu dari kamu, langsung saja kuangkat, "Maafkan aku, bukan aku tak mengabarimu. Barusan aku tersadar, aku di rumah sakit. Aku ... aku ..." terputus suara handphone itu.

Aku menepi, dan terhenti, tepat tengah malam, kurenungi perjalanan hari itu. Segenap perasaan kesal dan lelahku seketika sirna, kuikhlaskan semuanya karena alasan itu. Sebelum akhirnya aku pulang, dan tertidur di rumahku.

Paginya kuputuskan untuk kembali ke kotanya .....menemuinya.

Kebetulan aku masih ada cukup waktu.

Jangan berhenti menulis untukku

Pertama aku melihat gambarmu sepertinya tanganmu melambai-lambai untuk selalu membuka akunmu.

Pertama aku membaca tulisanmu sepertinya membawaku datang ke tempatmu yang jauh ke sana.

Tulisan pengalaman-pengalamanmu mirip tulisan kata-kataku, dan aku begitu saja menyenanginya.

Merenungi setiap makna-makna kata itu tampak begitu mudah karena aku merasa itu seperti tulisan aku sendiri.

Aku merasa bahwa engkau begitu dekat denganku, tak terpisahkan jarak ratusan bahkan ribuan kilometer.

Engkau yang begitu dekat aku merasa seolah dapat datang ke rumahmu kapan saja.

Terus terang tulisanmu begitu menggoda hatiku.

Ada sesuatu lain dari tulisan itu yang tak begitu vulgar termaknai.....untukku kah ????

Tulisan-tulisan yang luar biasa tersaji di akunku setiap waktu ....

Namun itu dulu ..... waktu kemarin ketika awal kita tersua.



Kini.. tak satupun bingkai tulisan datang lagi....

Ku harap jangan berhenti menulis itu untukku ...

Atau untuk pembaca lainnya ....

Ya ...!!

Di Samping Lapangan Itu.....

Aku berhenti di pinggir kota itu, sikapnya yang baik padaku ketika di depan orang banyak, sepertinya tak banyak membantu ketika aku menyadari bahwa ia tampak tidak begitu bersahabat ketika aku harus bicara empat mata dengannya. Aku bisa lihat dari gaya bicaranya ... tatapan mata yang aneh .... . Apa benar dia mau membantuku ??? Jangan-jangan cuma kata-kata kosong, sekedar basa-basi saja .....Ah ..Biasanya begitu ya ....

Aku lama terhenti di situ, menimbang kembali, apa yang pernah dia ucapkan di samping lapangan itu disaksikan kerumunan manusia di sana. Dia berjanji ini dan itu. Kala itu,kata-katanya mengelegar bagai petir di siang bolong. Enak di dengar, menyirami layunya tanaman sebuah keinginan. Menidurkan anak kecil di pangkuan ibunya. Membagi-bagi sekerat roti harapan. Dan semua tersenyum, bahkan tertawa bersama. Bersorak kegirangan bahwa kesempatan sebentar di depan mata. Walau di terik mentari yang menyengat, mereka tak rasakan.... karena sesaat kemudian juga akan turun hujan. Yah ... bertepatan dengan musim hujan. panas dan hujan silih berganti.

Lapangan telah sepi, apakah wujud dari kata-kata itu juga menghilang ...seiring pulangnya mereka.

Aku urungkan niatku datang ke rumahnya. Aku memutar haluan, dan berhenti di warung kopi sebelahnya, tempat aku bermimpi menegakkan cita-cita yang batangnya mulai merapuh.

Dapat apa sih aku kira-kira ketika datang ke tempat itu dan melipat lubang gambarmu ????
Uang sepuluh atau dua puluh ribuan itukah !!!